mungkin karena status batam sebagai kota industri inilah yg notabene telah didatangi berbagai suku bangsa yg datang dr segala penjuru dunia, sehingga menjadikan batam menjadi pusat dari semua industri, termasuk di dalamnya industri seks.
Jika kita keliling batam pada siang hari, semua akan berjalan biasa saja sebagaimana layaknya kota2 lain di indonesia. cuma mungkin agak sedikit lengang karena kebanyakan sibuk bekerja atau istirahat bagi yg kerjaannya malam hari.
The hell town yang penulis maksud akan kelihatan pada kehidupan malam di batam, baik dari tingkat hiburan malam yg paling mahal sampai yang gratisan, kita dapat jumpai dengan mudah di kota ini. ok kita mulai dari kehidupan malam yang high class, bagi yang sudah pernah ke batam pasti taulah daerah nagoya yg telah menjadi pusat perekonomian batam, hotel mall dan restaurant tersebar dimana2 diwilayah ini, sampai sempat ada seorang teman yang datang menjuluki batam kota sejuta mall. dikawasan ini muka khas yang biasa kita temui yang menjadi pemilik tempat2 hiburan adalah saudara kita yang berketurunan tionghoa. jumlah mereka memang hanya 20% dari penduduk batam tp menguasai perekonomian 80%, mengutif pernyataan ketua MUI Batam pada ceramah idul adha di Stadion Tumenggung abdul jalal 2007 yang lalu.
Dimana-mana akan kita temui perempuan yang mungkin sudah tidak mampu lagi beli kain, sehingga bagian tubuhnya hampir semuanya keliatan, dan ini bukan saja orang turunan tionghoa tp maaf saudara kita dari jawa, sumatra, kalimantan n bahkan jg ada yg dari sulawesi. prihatin melihat mereka, menjadi pelampiasan nafsu bejat orang2 asing dan sudah tidak sedikit pula yang menjalani kawin kontrak seperti tetangga temanku di kawasan batam centre, cuma karena alasan ingin hidup layak semua akan dilakukan, apalagi memang langganan mereka adalah orang berduit yg datang dr negara2 investor di batam.
Herannya, semua aparat yang terkait di batam seakan sudah melegalkan hal ini, yang mungkin dengan dalih menarik minat para investor asing atau dapat komisi dari pemilik tempat hiburan, itu aku tak tau lagi. yang pasti ini mungkin adalah neraka tingkat satunya batam, yang tidak akan tersentuh dengan hukum duniawi.
lain halnya dengan kegiatan malam bagi level2 orang pribumi, maksud penulis warga kita sendiri yang datang dari segala penjuru indonesia. kumpul kebo, berbuat mesum yang boleh saya bilang disembarang tempat, sebut saja di belakang ruko di pinggir jalan dan yang sedikit tertutup dan sudah menjadi rahasia umum kalo boleh saya urutkan yang terpavorit itu mulai dari Marina waterfront, Kawasan Jembatan Barelang, Kawasan Bukit senyum, Kawasan pantai melayu n Kawasan pantai nongsa, dengan mudah akan kita temui pasangan muda mudi yang terkadang sudah tidak memakai sehelai benangpun, dan gilanya seakan mereka sudah tidak peduli lagi dengan siapapun yang datang, karena kebanyakan yang kesitu sudah mempunyai tujuan yang sama. ini yang penulis istilahkan gratisan, cukup dgn beralaskan tanah berdinding remang tak perlu gelap, ehhh jadi juga.
Wallahu alam... apakah ini sudah menjadi syarat mutlak dari sebuah kemajuan???
silahkan jawab sendiri.... AY(Batam, 15/06/08)


1 comment:
Mau tua lebih lanjut.... yaa ke batam aja...
Post a Comment